Fotojurnalis; Menjadi Bijak dan Kritis Sebelum Bertindak di Era Informasi Visual
Nama: Iftikar Muhamad Najib
NPM: 180310150085
| Foto : www.rollingstone.com |
Memahami foto sebagai bahasa visual dan alat komunikasi merupakan satu hal yang sangat perlu disadari sedini mungkin oleh para fotojurnalis. Karenanya, hal tersebut bukan hanya memperkaya visual vocabulary seorang fotojurnalis, tetapi memperkaya dan membantu seorang fotojurnalis dalam memotret atau menyusun frame dengan memanfaatkan elemen-elemen visual. Berbekal pengetahuan akan visual literasi akan membantu seorang fotojurnalis untuk tidak hanya mampu membuat foto akan tetapi mampu juga “membaca” foto mereka sendiri agar bisa mengkomunikasikan pesan kepada publik melalui karya-karya mereka.
Beberapa tahun silam, dalam cover majalah terbitan majalah Rolling Stone menuai kontroversi. Hal ini menjadi kontroversi lantaran majalah Rolling Stone menggunakan foto profil dari akun twitter Dzhokhar Tsarnaev sebagai cover majalah. Dzhokhar Tsarnaev sendiri merupakan tersangka pelaku pengeboman Boston Marathon. Dalam cover majalah tersebut, Tsarnaev malah tak terlihat seperti pelaku pengeboman Boston Marathon. Ia malah terlihat innocent dan berpose dengan rileks sambil bersandar di tembok. Dalam headline di cover bertuliskan, “The Bomber: How a Popular, Promising Student was Failed by His Family, Fell Into Radical Islam and Became a Monster.”
Tidak bisa dihindari lagi, bahwa berbagai kecaman dan protes akan cover majalah Rolling Stone langsung bermunculan. Hal ini pula dikarenakan majalah Rolling Stone dianggap tidak memikirkan perasaan para keluarga korban dan para keluarga korban menganggap ini adalah sebuah penghinaan terhadap peristiwa pengeboman Boston Marathon. Berbagai reaksi bermunculan, hingga isu moral dan etika pun menjadi perdebatan. Namun apakah pantas foto selfie seorang pelaku pengeboman dijadikan cover sebuah majalah?
Tentu saja dalam hal ini, majalah Rolling Stone yang merupakan majalah besar tidak mungkin tidak memikirkan matang-matang apa maksud dan tujuan hingga akibat yang akan ditimbulkan ketika foto seorang pelaku pengebomam dijadikan sebagai cover majalah. Kasus cover majalah Rolling Stone adalah satu dari sekian contoh bahwa pesan visual dapat memberikan efek yang luar biasa. Entah memprovokasi, menginspirasi, mengundang simpati ataupun membuat orang yang melihatnya berempati.
Sebuah karya jurnalistik bisa dibilang berhasil ketika mampu membuat pembacanya berpikir meskipun hal tersebut terkadang membuat seseorang merasa tidak nyaman. Majalah Rolling Stone sadar akan hal itu dan cukup cerdas mengemas isunya. Bukan karena kontroversi yang ditimbulkannya tapi lebih karena cover majalah tersebut sebetulnya memiliki pesan dan makna penting yang ingin disampaikan: bahwa siapa pun di sekitar kita rentan menjadi seorang pembunuh atau teroris. Dan sosok mereka ada di sekitar kita, entah itu rekan kerja, sahabat, teman kuliah, tetangga, kerabat, atau bahkan mungkin anggota keluarga kita sendiri. Dan ini tentunya jauh lebih menakutkan dan harus di waspadai. Dan hal itu terwakili dengan foto selfie Tsarnaev, pelaku bom Boston Marathon, yang menjadi cover majalah.
Oleh karenanya bersikap bijak dan kritis sebelum bertindak tidak hanya dilakukan oleh seorang fotojurnalis, tetapi masyarakat umum pun perlu memiliki sikap bijak dan kritis ketika “membaca” sebuah pesan visual. Karenanya, visual literasi sangat berperan penting ketika informasi visual melimpah ruah namun tidak dibarengi dengan pemahaman maupun keterampilan dasar “membaca”, mengevaluasi, memahami, memaknai, dan menggunakan visual sebagai sarana komunikasi yang efektif.
Fotojurnalis sendiri lahir dan berakar dari foto dokumenter di mana sebuah karya foto jurnalistik pertama kali muncul pada Senin 16 April 1877, saat surat kabar harian The Daily Graphic di New York memuat gambar yang berisi berita kebakaran hotel dan salon pada halaman satu. Hal ini merupakan tonggak awal terlahirnya fotojurnalis, di mana setiap berita yang disajikan ditambahkan dengan sebuah foto atau karya visual untuk dengan mudah mengkomunikasikan bagaimana suatu kejadian terjadi sehingga pembaca dengan mudah memahami bagaimana suatu kejadian atau peristiwa terjadi.
Tidak mudah untuk menjadi seorang fotojurnalis dulu dan sekarang, karena untuk menyampaikan suatu pesan ataupun makna dalam sebuah karya visual perlu bekal memori-memori visual yang harus dimiliki oleh seorang fotojurnalis. Karena di dalam sebuah karya fotojurnalis selalu memiliki pesan visual di mana di dalam visual literasi ada tiga hal penting yang bisa kita peroleh. Pertama, memahami karya visual. Kedua, mampu menciptakan atau menggunakan karya visual sebagai media berekspresi atau berkomunikasi, dan yang terakhir adalah membangun pemahaman & pemikiran yang kritis dalam melihat sebuah karya visual.
Jadi seberapa pentingkah visual literasi dalam fotojurnalis untuk membangun sikap bijak dan kritis sebelum bertindak? Sangat penting. Karena membangun budaya literasi terutama dalam sebuah karya visual sangatlah penting, apalagi kita hidup di zaman di mana informasi visual berlimpah ruah dan sangat mudah diperoleh. Dengan menjadikan budaya literasi sebagai habbit, terutama di tengah masyarakat yang menjadikan informasi visual sebagai bentuk komoditas utama dan masyarakat yang masih mempercayai bahwa foto sebagai bentuk representasi atas apa yang mereka lihat termasuk juga seperti halnya karya fotojurnalis. Ini membuat masyarakat kita terutama para fotojurnalis untuk menjadi lebih bijak dan kritis terhadap sebuah karya visual dan akan lebih menghargai lagi karya-karya orang lain.
Sumber referensi:



